Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Seminar Nasional : “Karpet Merah Untuk Ekonomi Hijau”
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Acara Seminar Nasional “Karpet Merah Untuk Ekonomi Hijau” baru akan dimulai pukul 09.00 pagi. Namun, sejak pukul 08.00 para peserta suda...


Acara Seminar Nasional “Karpet Merah Untuk Ekonomi Hijau” baru akan dimulai pukul 09.00 pagi. Namun, sejak pukul 08.00 para peserta sudah mulai memadati Hall A Plaza Bapindo Lantai 9, tempat berlangsungnya seminar. Tepat pukul 09.00, MC membuka acara yang kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari perwakilan Kemitraan (Partnership).

                Seminar masuk ke sesi pertama yang bertemakan “REDD+ Sebagai Upaya Indonesia Menuju Ekonomi Hijau” dengan menghadirkan 3 pembicara antara lain Kelompok Kerja Strategis Nasional REDD+, Mubariq Ahmad dari Tim Telaahan Strategis Sekretariat, Sarwono Kusumaatmadja, dan Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Sipet Hermanto. Sesi ini dimoderatori Wimar Witoelar dari Yayasan Perspektif Baru.
Dari kiri ke kanan : Kepala Dinas Kehutanan Sipet Hermanto, Sarwono Kusumaatmadja dari Tim Telaah Strategis Sekretariat, Mubariq Ahmad dari Kelompok Kerja Strategis Nasional REDD+, dan moderator Wimar Witoelar dari Yayasan Perspektif Baru.

                Perlu diketahui, REDD+ merupakan akronim dari Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation, adalah suatu langkah yang mampu menjembatani ekonomi hijau di Indonesia. Mubariq Ahmad mengakui, saat ini REDD+ masih belum memiliki kelembagaan dan payung hukum akibat beberapa alasan, salah satunya adalah kekhawatiran adanya tumpang tindih kewenangan antarinstansi.

                Selanjutnya, Sarwono menyatakan, ekonomi hijau mampu menghadirkan Competitive Advantage bagi ekonomi Indonesia di kancah internasional. Menurutnya lagi, ekonomi hijau ini sangat sesuai dengan karakter sumber daya alam Indonesia. Beliau sempat mengkritisi janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di panggung internasional yang menyatakan komitmen pengurangan emisi sebesar 26% dengan kekuatan sendiri dan 41% dengan kerjasama internasional pada tahun 2020. Menurutnya, penyampaian itu tidak disertai pemaparan matematis dari mana angka itu (26% dan 41%) didapat.

                Sesi pertama diakhiri dengan tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta seminar. Namun, karena keterbatasan waktu tidak semua pertanyaan dapat ditampung. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang bertemakan “Menyingkirkan Benalu dari Pohon Ekonomi Hijau”.

                Pada sesi kedua hadir Martua Sirait dari Dewan Kehutanan Nasional, Rifqi Assegaf dan Asisten Deputi 6 Bidang Hukum UKP4 dan Direktur Eksekutif WALHI, Abetnego Tarigan. Sesi kedua berfokus pada pemanfaatan hutan yang sering menjadi sengketa antara pengusaha dengan warga lokal. Martua Sirait menggambarkan ketimpangan tata kelola hutan di Indonesia dengan data statistik dimana hanya 0.25 juta hektar kawasan hutan yang boleh dikelola masyarakat sedangkan 35,8 juta hektar diperuntukkan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Penguasa Hutan (HPH).
Dari Kiri ke kanan : Martua Sirait dari Dewan Kehutanan Nasional, Rifqi Assegaf selaku Asisten Deputi 6 Bidang Hukum UKP4 dan Direktur Eksekutif WALHI, Abetnego Tarigan

                Sedangkan Rifqi Assegaf berfokus pada penyelesaian masalah sengketa lahan yang ditangani secara ad-hoc atau kasus per kasus sehingga tidak mampu menyentuh akar persoalan selama ini. Selain itu, menurutnya penyelesaian sengketa lahan juga cenderung sektoral.

                Walaupun berlangsung selama 4 jam, antusias para peserta tetap tinggi hingga akhir acara. Sesekali Wimar Witoelar mengeluarkan celetukan yang mengundang tawa dari peserta. Oranye menutup tulisan ini dengan satu kalimat yang diucapkan oleh Wimar bahwa sesuatu yang benar harus terus disampaikan berulang-ulang. (Willy/Bima)

About Author

Advertisement

Posting Komentar

 
Top