![]() |
Gambar: shaolin.org |
“Tak perlu kau bertanya! Guru akan berpesan kepadamu,” kata Chang Cong.
“Apa itu?”
“Kamu harus turun dari keretamu ketika kamu melewati kampung halamanmu!” Ujar Chang Cong.
“Iya guru, itu berarti manusia tidak boleh melupakan asal usulnya!”
“Lalu, ketika kamu melihat pohon yang besar dan tinggi, kamu harus mengaguminya!” Lanjut Sang Guru.
“Ya…, ini berarti saya harus selalu menghormati orang yang lebih tua,” ujar Lao Tzu.
Dengan suara yang kecil dan berserak Chang Cong melanjutkan pesannya seraya membuka mulut dengan susahnya.
“Lihat lah ke dalam mulut guru, apakah kamu melihat lidah guru?” Tanya Chang Cong.
“Ya…, saya melihatnya!”
“Apakah kamu melihat gigi guru?”
“Tidak, saya tidak melihatnya, Guru!”
“Kamu tahu apa artinya?” Tanya Chang Cong.
“Ehmmm…, saya rasa…,” kata Lao Tzu sambil berpikir tentang sesuatu.
“Lidah tetap ada karena lunak dan lembut, sedangkan gigi bisa hancur karena keras…,” sambung Lao Tzu menjawab pertanyaan gurunya.
“Ya…, muridku, itu lah kearifan dunia. Tak ada yang bisa guru ajarkan lagi padamu. Hanya itu.” Kata Chang Cong menutup pembicaraan mereka.
Dan di kemudian hari Lao Tzu bersabda “Tak ada satu pun di dunia ini yang selembut air. Tak ada pula yang bisa mengunggulinya dalam melawan yang keras. Yang lunak dan lembut mengalahkan yang keras dan kuat. Hampir semua orang mengetahuinya. Namun, sedikit yang bisa menjalankannya.
_Shou Yuan (Abad I S.M.), diceritakan kembali berdasarkan karya Michael C. Tang.
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.