Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Suatu Siang di Metromini
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Nenek itu memberhentikan sebuah metromini yang melaju di Jalan Daan Mogot. Tubuhnya kurus, postur tu...
Nenek itu memberhentikan sebuah metromini yang melaju di Jalan Daan Mogot. Tubuhnya kurus, postur tubuhnya telah bungkuk. Ia mengenakan daster motif batik yang panjangnya selutut. Tangannya menggenggam sebuat dompet kain hijau yang telah lusuh. Bersama calon penumpang lain ia berusaha untuk naik. Teriakan kondektur yang menyuruh penumpang bergegas membuat si nenek semakin berusaha untuk mempercepat gerakannya.


Sayang, ketika ia telah naik di bus, tidak ada tempat duduk yang tersedia bagi dirinya. Mata si nenek melirik kanan dan kiri, mencoba melihat kalau-kalau ada bangku kosong yang tersisa untuknya. Ternyata tidak ada satu pun bangku kosong tersedia.

Sementara di tempat duduk bus, nampak sejumlah lelaki dan perempuan yang terlihat sehat dan gagah perkasa. Ada lelaki berpenampilan rapi. Ia mengenakan kemeja biru muda, celana kain hitam dan sepatu pantofel. Ia terlihat sedang serius mengurus ponsel yang dipegangnya. Dua deret di belakangnya ada seorang bapak yang penampilannya lebih sederhana. Ia sedang menghisap rokoknya sambil melihat ke luar jendela. Di sisi bangku yang lain terdapat pula dua orang siswi SMA yang duduk berdampingan. Mereka tengah asyik mengobrol dengan suara yang cukup nyaring.

Para penumpang yang mendapat tempat duduk ini terlihat tidak peduli sama sekali dengan nenek yang tengah berdiri di lorong bagian depan bus. Si nenek tampak kepayahan menyeimbangkan dirinya di metromini yang jalannya begitu ngebut. Tubuh nenek itu sesekali nampak terhuyung ke kiri dan ke kanan, mencoba menyeimbangkan dirinya ketika kendaraan berbelok atau mengerem.

Kasus di atas adalah contoh sederhana bagaimana rasa peka menjadi semakin langka di tengah masyarakat. Inikah potret masyarakat kita? Ketika ada orang lain kesusahan di depan mata, kita seakan-akan buta (atau sengaja membutakan diri) untuk berbuat sesuatu. Kenyamanan dan keselamatan diri sendiri sudah pasti menjadi hal utama yang harus dipertahankan. Orang lain masa bodo! Yang penting saya dapatkan apa yang saya mau.


Menjadi peka bukanlah urusan sebagian kalangan saja. Menjadi peka adalah urusan setiap manusia dari berbagai generasi, jenis kelamin dan latar belakang. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk sosial yang memiliki hati nurani menjadi dasar mengapa kepekaan penting untuk diterapkan.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual pun memerlukan rasa peka untuk mengimbangi ilmu yang diterima di kampus. Bila hanya ada ilmu tanpa diikuti hati yang peka, bisa-bisa akan lahir lagi teroris macam dr. Azaharie. Atau seperti koruptor macam wakil-wakil kita di Senayan. Mereka wakil rakyat, tapi tidak peka dengan keadaan rakyat yang diwakilinya.

Indonesia sudah banyak memiliki manusia pintar. Namun, tidak banyak yang memiliki rasa peka. Apakah kita salah satunya? (Eilina-Oranye)

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top