Ujian nasional baru saja selesai. Seperti biasa, pengumuman hasil ujian selalu diwarnai dengan berbagai ekspresi. Bagi yang lulus, ekspresi kegembiraan pasti terpancar dari diri mereka. Satu kata, lulus, seakan menjadi sumber kegembiraan dan kelegaan setelah berjuang belajar selama tiga tahun. Namun, bagi siswa yang tidak lulus, pengumuman kelulusan menjadi suatu momen banjir air mata. Bahkan, ada siswa yang melakukan tindakan nekat dengan mencoba bunuh diri. Tidak lulus ujian sudah pasti menimbulkan perasaan sedih, malu, dan terpukul bagi siswa yang mengalaminya. Walaupun tahun ini pemerintah sudah memberi kesempatan untuk ujian ulang, tetap saja hal tersebut tidak dapat menutupi perasaan mereka.
Melihat ekspresi yang agak ekstrim dari para pelajar yang tidak lulus, maka muncul sejumlah pertanyaan. Apakah hasil ujian menjadi harga mati untuk menjalani kehidupan selanjutnya? Apakah mereka yang lulus berarti pintar dan yang tidak lulus itu bodoh? Apabila kita hanya mengukur dari kemampuan intelektual, bisa saja ada pengkotakan semacam itu. Namun, terdapat hal-hal yang lebih penting dari sekedar intelektualitas. Masyarakat kita mungkin kurang menyadari pentingnya hal lain seperti etika yang dapat menjadi tolak ukur dalam menilai kualitas manusia. Misalnya, ada seorang siswa yang mendapatkan nilai 9 dalam ujiannya dengan cara yang tidak jujur. Secara akademis, memang siswa tersebut dapat digolongkan pintar, tetapi bagaimana dengan sisi moralitasnya?
Sistem pendidikan di Indonesia sepertinya masih menciptakan sebuah iklim di mana nilai adalah segala-galanya. Lihat saja di sekolah-sekolah pada masa persiapan ujian. Para siswa diberi pelajaran yang berfokus pada penyelesaian soal ujian, bukan bagaimana agar siswa mengerti sepenuhnya materi yang dipelajari. Ada juga siswa yang menggunakan jalan pintas dengan membeli soal dan jawaban ujian. Harapannya, lulus dengan usaha seminimal mungkin. Semua yang mereka lakukan adalah “perjuangan” untuk mencapai angka yang akan memunculkan kata lulus.
Sudah sepatutnya sistem pendidikan semacam ini diubah. Tidak salah jika siswa berusaha mengejar nilai tinggi. Namun, yang terpenting bagaimana siswa bisa mempertanggungjawabkan nilai-nilai yang tercetak di rapor atau ijazah. Nilai memang penting, tetapi jangan lupakan bahwa moral juga tidak kalah penting. (eil)
About Author

Advertisement

Related Posts
- Media Alternatif Wajah Baru Oranye "OZONE"26 Nov 20140
Normal 0 false false false IN KO X-NONE ...Read more »
- UNTAR GOES TO GLOBAL ENTREPRENEUR WEEK SUMMIT INDONESIA 201422 Nov 20140
Jumat (21/11/2014), Universitas Tarumanagara diundang secara khusus untuk hadir dalam acar...Read more »
- 10 Kandidat Peraih "Pahlawan untuk Indonesia 2014"05 Nov 20140
Meyambut hari pahlawan Indonesia yang jatuh pada tanggal 10 November 2014, MNC TV mengadakan progra...Read more »
- Meeting PRO: Menantang Diri Jadi Public Speaker26 Sep 20140
Normal 0 false false false EN-US KO X-NONE ...Read more »
- Most Anticipated Game in This Weekend : Manchester United vs QPR11 Sep 20140
Normal 0 false false false IN KO X-NONE ...Read more »
- Tradisi Menjelang Tahun Baru Imlek31 Jan 20140
Tahun baru Imlek merupakan perayaan yang hampir diikuti oleh seluruh masyarakat keturunan Tionghoa ...Read more »
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mementingkan intelektualitas memang menjadi budaya yang sulit dihapuskan. Nilai yang tertera pada rapor / ijazah selalu lebih diburu banyak orang karena gak pernah muncul nilai moral di atas ijazah.
BalasHapus=P
di kampus juga banyak yang ngejer nilai.. hehe
BalasHapus