Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Ki Hajar Dewantara, Sosok Pejuang Pendidikan
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih di kenal dengan Ki H ajar Dewantara merupakan simbol pe...
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara merupakan simbol perjuangan akan pendidikan bagi kaum pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ki Hajar menentang diskriminasi untuk mendapatkan pendidikan yang pada masa itu hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan dan orang-orang Belanda. Ki Hajar membangun Perguruan Taman Siswa Yogyakarta yang memberikan pendidikan bagi kaum pribumi. Atas jasanya, hari kelahiran Ki Hajar yaitu 2 Mei  diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar juga dikenal sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan. Ki Hajar berasal dari keluarga Keraton Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ki Hajar menjadi wartawan dan penulis di beberapa surat kabar. Semangat anti kolonialisme selalu tertuang dalam tulisannya yang tajam dan komunikatif.

Ki Hajar bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo (BO) pada tahun 1908. Tujuannya adalah untuk mengembangkan wacana Indonesia dalam persatuan dan kesatuan. Selain BO, Ki Hajar juga dikenal sebagai tiga serangkai bersama E.F.E. Douwes Dekker dan Dr. Cipto Mangunkusumo yang membangun National Indische Partij. National Indische Partij merupakan partai politik pertama dalam masa Hindia Belanda dan bertujuan melawan diskriminasi yang terjadi pada masa itu.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda. Timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Ki Hajar. Ia kemudian menulis tulisan yang berjudul "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga"Salah satu tulisan Ki Hajar yang paling dikenal adalah yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was") yang dimuat dalam surat kabar de express. Isi artikel ini berisi kritikan pedas untuk kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya."

Akibat tulisan ini Ki Hajar ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenbrug dan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Dekker dan Tjipto yang tidak terima atas tindakan pengasingan itu memprotes dan berujung pada pengasingan tiga serangkai ke Belanda.(tany)


About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top