Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Mpok Ipong, Potret Kemiskinan di Tanah Banten
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Euforia perekonomian Indonesia kian membahana. Pertumbuhan perekonomian Indonesia bahkan menempat...
Euforia perekonomian Indonesia kian membahana. Pertumbuhan perekonomian Indonesia bahkan menempati urutan kedua terbaik di antara negara-negara G-20. Tapi bukan berarti kemiskinan sudah lenyap dari bumi ibu pertiwi. Lihat saja Mpok Ipong, seorang janda beranak dua yang tinggal di Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Mpok Ipong tinggal di rumah beralaskan tanah berlumut dan beratapkan genting yang tak mampu lagi menadah air hujan. Dengan kondisi seperti itu, Mpok Ipong seringkali harus tidur bersama tetesan air hujan yang membasahi rumahnya.


Sejak suaminya meninggal, kehidupan Mpok Ipong berubah total. Dia harus merelakan rumah dan tanahnya untuk biaya pemakaman sang suami. Belum lagi kondisi kejiwaan Azis, anak sulung Mpok Ipong yang menurun akibat kehilangan sosok ayahnya. Jika Azis sedang  kumat dia bisa menghilang dari rumah hingga berhari-hari.

Sekarang, Mpok Ipong hanya mengandalkan kerja serabutan untuk membiayai urusan perut. Salah satunya adalah menanam padi di lahan milik orang lain. Untuk pekerjaannya ini, Mpok Ipong diupah Rp 15.000,- sehari. Terkadang Mpok Ipong mendapat bantuan beras dari tetangga sekitar. Tetapi jika sedang tidak ada, Mpok Ipong harus pasrah dengan keadaannya.


Mpok Ipong hanya satu dari 28 juta orang (data BPS Maret 2013) yang masih menyandang gelar miskin. Ironisnya, pemerintah seolah tutup mata dengan kondisi rakyatnya. Pemerintah seolah terlena dengan status negara dengan perekonomian terbaik dan melupakan janji menyediakan pekerjaan yang layak bagi warga negaranya. Ketimpangan semakin nyata terlihat ketika sang gubernur memuaskan hobi shopping-nya hingga milyaran. Nominal yang bahkan tak pernah terlintas dalam benak Mpok Ipong.(wil)

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top