Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Semangat Berwirausaha dari Kalangan Marginal
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Epul bersama sepatu-sepatunya Langit Senin sore itu didominasi warna kelabu. Sesekali kila...
Epul bersama sepatu-sepatunya
Langit Senin sore itu didominasi warna kelabu. Sesekali kilat membelah langit. Angin juga berhembus lebih kencang daripada biasanya. Bulan ini adalah bulan kesepuluh dari dua belas bulan yang ada. Bulan Oktober identik dengan peristiwa alam yang bernama hujan, tetapi belakangan ini teriknya matahari masih membakar kulit. Jarang, cuaca sore di Jakarta ini bisa mendung seperti ini.
Walaupun begitu, gerobak bertuliskan “SOL SEPATU” berwarna merah milik Epul ini masih menunggu dilirik pelanggan. Sepatu-sepatu yang dipamerkan di gerobak mungil itu rata-rata adalah sepatu pantofel khusus laki-laki. Tak cukup dengan gerobak itu, Epul menaruh beberapa koleksi sepatunya di sebuah tempat yang terbuat dari kayu yang dijejerkan dengan rapi di samping kanan gerobaknya, hanya saja tempat itu lebih pendek dari gerobaknya—mirip dengklek. Walaupun sepatu-sepatu telah ditata dengan cukup rapi, namun orang-orang yang melalui jalan besar Perumahan Kalideres Permai tak begitu tertarik dengan pameran sepatu itu.

Pemuda berumur 21 tahun tersebut telah mengabdikan diri di bidang ini sejak tiga tahun yang lalu. Dulunya, ia mangkal di Cengkareng. Namun, jasa sol dan jual beli sepatu  itu tak berumur lebih dari setahun. Sebab, mendapat teguran dari Satpol PP, maka ia memutuskan untuk menjajakan jasanya di kompleks perumahan Kalideres yang tak jauh dari tempat tinggalnya yang berada di Gang Waru, perumahan Bulak Teko.

Pemuda berkulit sawo matang yang berasal dari Bandung ini mengaku tidak percaya diri  untuk bekerja di tempat kelahirannya itu, maka ia memilih untuk mencari nafkah di Jakarta. Dari niat itulah akhirnya ia bekerja sebagai buruh di sebuah parbrik sepatu di kawasan Kosambi, Jakarta Barat. Namun, rupanya ia pun kurang puas dengan pekerjaan itu sehingga memutuskan untuk keluar.
“Pengen mandiri aja,” jawabnya dengan senyum kecil ketika ditanya mengapa dirinya memilih untuk bekerja di bidang ini.

Anak keempat dari lima bersaudara itu pernah menjajakan jasa dan sepatunya dengan berkeliling di sekitar perumahan Daan Mogot, perumahan Citra 1 dan 2. Namun, ia ingin mencari perubahan. Ia lalu membuat gebrakan baru dalam hidupnya, menjual jasa menggunakan gerobak putihnya itu.

Masalah laba, ia merasa tak jauh beda dengan usaha keliling yang pernah ia jalani selama setahun itu. "Kira-kira sama aja sih,” jawabnya sambil menunduk ke tanah. “Sehari bisa lima puluh ribu rupiah, tapi kadang juga nggak ada,”
Maka tak heran, ia menghentikan jasa kelilingnya, kemudian memulai untuk membawa gerobak kecil yang memakan sewa lima puluh ribu rupiah per bulan. “Uangnya diserahkan ke keamanan sini.”

Gerobak sepatu itu biasanya menampilkan diri pada pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB. Kebanyakan pelanggannya berasal dari perumahan Daan Mogot.
“Ada sih (dari Bulak Teko), tapi jarang. Soalnya ada saingannya.” katanya seraya memilin-milin barang di sekitar, menutupi rasa gugupnya.

Pemuda lulusan SMP ini mengatakan, dirinya tidak puas dengan keadaannya sekarang, tetapi hanya ini keahliannya sehingga mau tak mau ia pun menjalaninya. Mimpinya, ia ingin memiliki kios kecil yang bisa memperkerjakan orang-orang. Sederhana. Namun, semangat itu tergambar dari wajahnya yang berbinar-binar.

Pernahkah pemerintah benar-benar serius memperbaiki masalah pendidikan? Buktinya, Epul tak bisa melanjutkan pendidikan ke bangku SMA lantaran kekurangan biaya. Ini adalah gambaran kecil dari masyarakat marginal. Kecil. Namun, semangatnya tinggi. Pernahkah Anda membayangkan seorang seperti Epul akan mempunyai kios yang cabangnya berada di kota-kota besar di Indonesia? Ataukah hanya mimpi di siang bolong saja? Mungkin.(oliv)

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top