Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Petaka Sebuah Kata
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
     Ibu itu nampak panik, sementara para petugas membuka paksa gembok rumahnya dengan sebuah lingg...

     Ibu itu nampak panik, sementara para petugas membuka paksa gembok rumahnya dengan sebuah linggis. "Jangan, Pak! Tolong! Saya minta waktu!" pinta Ibu tersebut dalam tangis paniknya. Ketika para petugas pengadilan berhasil merusak gembok rumah, sang Ibu menangis lebih histeris sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


     Itulah salah satu teaser (cuplikan berita) salah satu tayangan berita sore. Setelah teaser tersebut, munculah dua orang pembaca berita membuka tayangan. "Selama tiga puluh menit ke depan kami akan menyajikan berita penting dan menarik hanya untuk Anda," ujar salah satu pembawa acara. Saat program memasuki segmen pertama, muncullah kembali berita mengenai penyitaan rumah, seperti yang telah ditampilkan dalam teaser.

     Berita tersebut penuh air mata. Tergambar bagaimana sang Ibu dalam rasa panik dan kagetnya memohon para petugas pengadilan untuk berhenti memaksa masuk ke dalam rumah. Dalam tangisnya mungkin saja si Ibu membayangkan bagaimana nasibnya kelak bila rumahnya diambil. Kemanakah dia akan pergi? Akan bagaimanakah hidupnya selanjutnya? Namun tangis dan permohonan si Ibu tidak digubris oleh para petugas. Mereka tetap saja memaksa masuk ke dalam rumah.
Foto: antarafoto.com

     Setelah tayangan berita itu selesai, pikiran ini kembali melayang pada ucapan pembaca berita di awal tayangan, "Kami akan menyajikan berita yang penting dan menarik." Menarik? Merasa kata ini agak "mengganjal" di hati, saya pun segera membuka internet untuk melihat arti kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI, kata "menarik" memiliki arti "menyenangkan (menggairahkan, menyukakan hati karena cantiknya, bagusnya, dsb); membangkitkan rasa kasih (suka, ingin, sayang, dsb), membangkitkan rasa untuk memperhatikan (mengindahkan dsb)". Melihat arti kata tersebut, saya makin merasa bahwa kata "menarik" yang diungkapkan pembawa acara tadi tidak tepat.

     Di luar program berita, saat ini juga cukup banyak acara yang menggunakan orang kecil dan tidak mampu sebagai objek utama acara. Si orang kecil digambarkan begitu sedih dalam beban ekonomi hariannya, dan si pembawa acara datang seakan-akan sebagai malaikat penolong, membawa sejumlah uang yang diklaim dapat membantu orang tersebut. Namun, untuk mendapatkan uang tersebut, si orang kecil itu harus berhasil melakukan tantangan yang diberikan pembawa acara. Jadilah si calon penerima uang berlari-lari kesana kemari menyelesaikan tantangan, demi mendapatkan lembaran rupiah di tangan kru tayangan. Di akhir acara, dengan napas terengah-engah, si orang kecil itu kembali "diaduk" emosinya dengan pemberian hadiah yang jumlahnya memang lumayan.

     Apakah penderitaan dan tangisan orang hal menarik? Apakah kesusahan sesama dapat menyenangkan hati dan membangkitkan rasa suka seperti arti yang ditemukan dalam KBBI? Selama ini memang ada stereotip bahwa berita buruk adalah berita bagus. Tangisan, ratapan, darah, makian, dan hal-hal erotik dianggap dapat mendongkrak rating suatu tayangan. Etiskah hal itu, membiarkan para konseptor dan pemilik media bergelimangan iklan dan pemasukan, yang notabene diperoleh dari eksploitasi penderitaan kaum tidak berdaya?

     Kembali lagi ke tayangan berita sore tersebut. Permasalannya memang terletak pada satu kata. Namun, satu kata tersebut berpotensi mengubah cara pandang khalayak melihat suatu peristiwa. Jangan sampai kelak masyarakat kita semakin jauh dari nuansa humanis, karena setiap hari menikmati media yang juga tidak humanis. Jangan sampai. (Eilina Mariamele)

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top