Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Menularkan Virus Cinta Bahasa Indonesia
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang ...
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
 Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
 
Sumpah Pemuda



B
angsa Indonesia boleh berbangga karena disatukan oleh bahasa. Bahasa apapun itu, dapat membantu kita untuk menyampaikan suatu isi pesan dalam proses komunikasi.
Namun, pada kenyataannya eksistensi penggunaan bahasa Indonesia ini semakin bergeser dengan munculnya bahasa gaul. Ya, anggapan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar hanyalah milik mereka yang hidup di zaman dahulu. Bahasa Indonesia adalah bahasa formal yang biasa digunakan oleh bapak-bapak, dalam acara yang formal juga. Bahasa Indonesia sekiranya juga merupakan alat yang digunakan dalam surat-surat resmi yang tertulis.
YA KELEEUUSSS! Uppss…
Tahukah kalian, Muhammad Yamin bersama pemuda lainnya udah berjuang untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Dulu, dalam Sumpah Pemuda pada kalimat ketiga tertulis begini, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu.
M. Tabrani mempertanyakan, “Apabila tanah dan bangsa kita sudah Indonesia, mengapa bahasa kita adalah bahasa Melayu?” Sejak saat itu, Sumpah Pemuda pun lahir dari Kongres Pemuda kedua pada 27-28 Oktober 1928. Lengkaplah sudah formula negeri ini: tanah Indonesia, bangsa Indonesia, juga bahasa Indonesia.
Bila para pemuda yang memperjuangkan sumpah itu masih hidup hingga kini, tak ayal mereka akan bersedih. Masyarakatnya kini malah tak bisa mempertahankan sesuatu yang telah diperjuangkan dulu. Padahal, menggunakan bahasa Indonesia merupakan salah satu cara untuk mencintai negeri kita ini. Bahasa adalah alat pemersatu, dari sanalah muncullah semangat nasionalisme.
Bayangkan saja, bahkan semangat ini bisa dikobarkan hanya lewat lidah dan pita suara!
Hmm… tak heran bukan apabila Presiden Republik Indonesia yang pertama, yakni Soekarno, mampu menyulut semangat para pemuda-pemudi Indonesia lewat pidato yang mengagumkan. Ketegasan di setiap katanya mampu membuka mata dan pikiran. Lihat, apa yang sudah dilakukan bahasa Indonesia untuk kita?
Sewaktu masih duduk di bangku kuliah Semester 1, saya masih mendapat mata kuliah Bahasa Indonesia. Bagi saya, materi ini susah-susah gampang karena saya baru sadar, ada banyak hal di tentang bahasa ini yang tidak saya ketahui sebelumnya. Namun, saya bersyukur karena saya menjadi tahu karena saya ketidaktahuan tersebut.
Niknik M. Kuntarto, dosen Bahasa Indonesia Universitas Multimedia Nusantara seolah menjadi virus baik bagi para mahasiswanya. Dia adalah dosen saya. Dengan gaya ajar yang menyenangkan lewat Kuis Bintang-bintang, mahasiswa jadi lebih mudah memahami penggunahan bahasa yang baik dan benar.
Setiap selesai menyampaikan materi, Bu Niknik akan memberikan kuis terkait materi yang baru saja diberikan. Bila berhasil menjawab, kami akan diberi satu bintang. Nah, semua bintang ini harus dikumpulkan. Minimal ada 20. Dengan 20 bintang, kami tidak perlu mengerjakan Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia dan langsung mendapat nilai A!
Sejenak saya berpikir, ini adalah tawaran yang menarik!
Seiring kami berproses di dalam kelas, nyatanya Bu Niknik sukses menyebarkan virus cinta bahasa Indonesia! Kuis ini akan selalu membuat kami berlomba-lomba dan berpikir dengan cepat mengenai jawaban terbaik.
Dia akan melarang kami untuk menggunakan kata “terus” yang kerapkali kami artikan sebagai kata “kemudian, lalu, atau selanjutnya.” Terus, nyatanya saya juga mendapat banyak pelajaran. Nah, itu salah. Seharusnya, selanjutnya saya juga mendapat banyak pelajaran. Kira-kira seperti itu.
Dosen saya ini juga selalu melatih daya kekritisan kami begitu saja. Dia pernah berkata, “Kalau ada sesuatu yang salah dari bahasa Indonesia, coba benarkan. Kalau kita membiarkannya, maka hal yang salah akan tetap salah… dan selamanya kita juga akan salah.” Ya, kurang lebih seperti itulah perkataannya.
Butuh sekian menit untuk mencerna perkataannya. Ada benarnya juga.
Itulah yang menjadi prinsip saya dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar hingga kini. Bahkan, ketika saya melihat-lihat banyak tulisan di jalan, di buku, di kardus makanan, di pintu toilet, di jembatan, di spanduk, di manapun itu, saya selalu mencoba kritis.
“Tulisannya salah tuh. Seharusnya, dibuang di tempat sampah, bukan di buang ditempat sampah.”
Gumaman-gumaman kecil itu tak pernah membuat otak saya berpikir. Itu malah membuat saya ketagihan untuk terus mencintai bahasa Indonesia hingga kapanpun.
Tak dimungkiri, kehadiran bahasa gaul dalam pergaulan sosial tampaknya semakin berekpansi. Bukan hanya masyarakat perkotaan saja yang kian akrab, melainkan juga dengan masyarakat di desa. Kehadiran bahasa gaul ini semakin merambah akibat sulit dikendalikannya mobilitas urbanisasi. Ditambah lagi, adanya anggapan bahwa mengadu nasib di kota-kota besar akan meningkatkan finansial.
Memang, bahasa gaul seperti bisa dipandang sebagai suatu kreativitas. Sayangnya, kekreativitasan ini malah menyudutkan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Ketika seseorang berinteraksi dengan kelompok yang sudah “keracunan” bahasa gaul, lantas seseorang itu juga akan ikut terjerumus ke dalamnya.
Faktor lain yang menyebabkan semakin meluasnya penggunaan bahasa gaul adalah canggihnya teknologi masa kini. Sarana untuk bertukar informasi dengan yang lainnya semakin mempermudah mereka untuk menggunakan bahasa gaul.
Bahasa gaul itu sebenarnya tidak dilarang, asalkan tahu tempat dan waktu penggunaannya. Bahasa gaul itu diperbolehkan, asalkan tahu benar apa fungsi dan tujuannya.
Untuk mencegah penggempuran bahasa gaul atas bahasa nasional kita, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan guna menekan arus.
Pertama, sebagai generasi penerus bangsa, biasakanlah untuk menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah. Hindari penggunaan bahasa gaul yang akan mendistraksi pemilihan kata kita sehingga kita bisa terbiasa menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tingkatkan kesadaran untuk melestarikan bahasa karena bahasa merupakan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita.
Hal itu jugalah yang saya lakukan di media kampus tempat saya bernaung. Saya selalu berusaha memerhatikan setiap penggunaan kata supaya pengaplikasiannya tepat. Mata pembaca yang menikmati tulisan di majalah kampus saya pun tidak harus terdistraksi dengan penggunaan bahasa yang tidak semestinya.
Kemudian, pendidikan dan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan perguruan tinggi harus lebih ditingkatkan. Tanamkan rasa cinta dan tanggung jawab akan penggunaan bahasa Indonesia sejak dini agar penerapannya bisa maksimal. Hal ini bisa dilakukan dengan berdiskusi, berdialog, menulis cerpen, bermain drama, dan sebagainya.
Pemerintah juga bisa mengampanyekan masyarakat yang cinta bahasa. Mudahkan masyarakat untuk mencintai dengan memproduksi film-film dengan bahasa Indonesia, atau lewat lirik-lirik musik yang menggunakan bahasa nasional. Bisa juga lewat buku-buku yang ditulis sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
Bahkan, saya pun pernah berbagi ilmu dengan editor novel saya tentang penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan EYD menjadi salah satu faktor novel saya bisa diterbitkan. Dari hal sekecil ini saja sudah bisa memberi keuntungan yang menurut saya luar biasa. Tak diragukan lagi, bahasa membantu saya untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Ya, perlu ditekankan kembali bahwa bahasa adalah identitas budaya, identitas nasional. Penggunaan bahasa gaul secara tak sadar akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa nasional kita. Apa perlu bahasa Indonesia diklaim negeri lain baru kita mencintainya dengan utuh dan sepenuhnya? Lantas, masih berpikir untuk menggeser bahasa Indonesia dengan bahasa gaul?YA KELEEUUSSS! Uppss…

Penulis, Sintia Astarina adalah mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara adalah pemenang juara kedua dalam Lomba Esai Oranye 2014 yang diumumkan dalam Fikom Expo 2014 "The Power of Journalism" pada 7 Maret 2014.
Daftar Pustaka
Saputra, Eko Rizal. 2012. Makalah Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja dalam http://ekorizalsaputra.wordpress.com/2012/11/24/makalah-penggunaan-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/
Zoom. 2013. Penggunaan Bahasa Gaul dalam Perkembangan Bahasa Indonesia dalam http://zoombosscoot.blogspot.com/2013/10/penggunaan-bahasa-gaul-dalam.html 

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top