Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Asik... Saatnya Makan Kue Bulan! Apa Maknanya, ya?
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
sendokgarpu.com : Kue Bulan dengan Aneka Variasi Gembar-gembor kebudayaan Tionghoa di tanah air mungkin baru terdengar belakangan ini se...
sendokgarpu.com : Kue Bulan dengan Aneka Variasi

Gembar-gembor kebudayaan Tionghoa di tanah air mungkin baru terdengar belakangan ini setelah kunkungan rezim otoriter lengser. Kita mengenal Imlek, Cap Go Me, Barongsai, Angpao, dan sebagainya. Ini adalah simbol-simbol kebudayaan dalam komunikasi lintas budaya yang dimiliki etnis Tionghoa di Indonesia.
Satu lagi budaya yang baru terdengar belakangan ini, yakni festival kue bulan. Menjelang perayaan kue bulan, kita bisa temukan kue-kue dan panganan khas perayaan ini di pasar tradisional dan supermarket. Kue bulan. Ada bermacam-macam variasi dan rasa. Yang pasti bentuknya bulat, menyerupai bulan purnama. Bentuk bulat melambangkan kebulatan dan keutuhan. Ada besar dan kecil.  Ada yang manis, asin, dan pedas. Isinya pun beragam, ada kuning telur,kacang merah, kacang hijau, buah, es krim, pasta biji teratai, kacang hitam, pasta the hijau, durian, talas, dan sebagainya. Kue Bulan disantap dan dibagikan sebagai tanda syukur terhadap rejeki yang sudah diterima sepanjang tahun.

Perayaan kue bulan jatuh setiap tahunnya pada bulan delapan tanggal 15 Kalender Imlek. Bulan purnama pada waktu ini bersinar menerangi gelap malam. Ada beberapa makna yang bisa dikomunikasikan dalam perayaan ini.

Bermula ketika Cina di bawah penjajahan Mongolia. Pemerintahan sangatlah buruk, Raja hidup berhura-hura dan rakyat menderita. Saat keadaan ekonami kacau, ada beberapa aktivis menyerukan revolusi. Namun, karena pengawasan yang ketat dari pemerintah, pesan dan surat dari pemberontak tidak mungkin disebarkan. Akhirnya, ada seorang aktivis dan seniornya memperkenalkan jenis makanan yang disebut “kue bulan”. Ia berpakaian sebagai pandeta Tao membawa dan membagikan kue kepada penduduk kota. Saat Festival Pertengahan Musim Gugur tiba, rakyat membuka kue bulan dan menemukan secarik kertas dalam kue, “habisi orang-orang Tartar tanggal 15 pada bulan ke 8”. Sebagai hasilnya semua rakyat bangkit berevolusi melawan pemerintahan Mongolia dan mereka berhasil! Sejak saat itu kue bulan menjadi makanan tradisional saat terang bulan.

Adapula versi legenda dari cerita perayaan kue bulan. Dewi Bulan yang tinggal di istana kaca, keluar untuk menari dibawah bayang-bayang bulan. Berawal pada suatu masa ada 10 matahari bersinar bersamaan diatas langit. Kaisar meminta seorang pemanah untuk menembak 9 diantaranya. Ketika tugas itu berhasil dilaksanakan, Dewi Surga Barat menghadiahkan sebutir obat hidup abadi pada sang pemanah. Istri sang pemanah menemukan obat itu tanpa sengaja dan meminumnya. Karenanya,ia lalu diasingkan ke bulan. Kecantikan istri pemanah mencapai puncaknya pada hari perayaan kue bulan.

Dibalik rasa dan penampilannya yang manis,kue ini menyimpan cerita yang menarik. Bagi yang merayakan, selamat merayakan festival kue bulan ya…
(Suwito dari berbagai sumber)

About Author

Advertisement

Poskan Komentar

 
Top