Oranye Fikom Untar Oranye Fikom Untar Author
Title: Potret Hidup si Anak Kuda.
Author: Oranye Fikom Untar
Rating 5 of 5 Des:
Tanpa keluh kesah bocah SD ini bekerja sebagai joki kuda wisata setiap pulang sekolah hingga petang menjelang. Sebut saja Angga, anak yan...
Tanpa keluh kesah bocah SD ini bekerja sebagai joki kuda wisata setiap pulang sekolah hingga petang menjelang. Sebut saja Angga, anak yang kini berusia 12 tahun itu sudah mencari nafkah sejak duduk dikelas 1 SD. Setiap hari selepas sekolah, Angga membawa kudanya untuk berkeliling disekitar villa Cimacan, Puncak Bogor.
Kuda yang biasa menemaninya bukanlah miliknya sendiri. Ia harus berjalan sejauh tiga kilometer untuk meminjam kuda tersebut. Diusianya yang masih tergolong anak – anak,ia mampu menunggang kuda dengan mahir. Menurutnya, kuda tersebut sudah jinak dan mengenalnya dengan baik.
Angga hanya mematok tarif sebesar Rp 20.000,- bagi pelanggan yang ingin menunggangi kuda yang olehnya diberi nama Isabella itu. Selama 30 menit ia membawa pelanggannya berkeliling dikebun teh Puncak dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Biasanya dalam sehari ia mendapatkan 2 orang pelanggan, namun terkadang ia tidak mendapatkan pelanggan sama sekali. Jika tidak mendapatkan pelanggan, ia harus pulang dengan tangan kosong. Walaupun demikian ia tetap bersyukur dan berharap esok hari akan mendapatkan rezeki yang lebih baik lagi.

Selama empat tahun menjadi joki kuda wisata, resiko tidak pernah lepas dari pekerjaannya. Karena postur tubuhnya yang kecil, Ia pernah digigit bahkan diinjak oleh kuda yang menjadi mata pencahariannya itu. “Ya gak apa – apa, paling hanya diusap – usap saja,” kata Angga. Rasa sakit ataupun lelah yang Ia dapat terbayarkan ketika berhasil membawa sejumlah uang untuk diserahkan kepada ibunya selepas senja. 
Angga adalah anak ke empat dari 5 bersaudara. Ditengah kesulitan ekonomi keluarga, ia membantu mencari nafkah semampunya. Pendapatan ayah yang bekerja sebagai kuli bangungan dan Ibu sebagai penyabit rumput divilla tidak pernah mencukupi biaya kehidupan sehari – hari mereka. Kakak – kakaknya sudah tidak lagi bersekolah. Hanya Angga dan seorang adiknya bernama Rini yang masih bersekolah di kelas 5 SD. 

Ipang, kakak sulung Angga, hanya bekerja membantu ibunya sebagai penyabit rumput. Sedangkan kedua kakak perempuannya Tia dan Santri membantu memasak dan mencuci dirumah. Adik bungsu, Rini tidaklah bekerja.
Angga tidak pernah merasa iri hati ketika melihat teman – temannya bermain sepulang sekolah. Seringkali ia hanya bisa menelan ludah dan mengusap dada ketika melihat teman – temannya membeli jajanan tetapi ia tidak bisa. Ia harus bekerja dan mencari uang. Seluruh uang hasil menjadi joki kuda wisata ia serahkan kepada ibunya. “Uangnya saya kasih Ibu buat beli makan sehari – hari, buat biaya sekolah saya sama adik juga,” ujarnya dengan lapang dada.

Walaupun keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, Angga tidak pernah berpikir untuk meninggalkan bangku sekolah. Ia tetap menyempatkan diri untuk belajar dengan giat pada malam hari sepulang bekerja. Berharap, kehidupan keluarganya akan menjadi lebih baik.
Kedua orangtua dan adiknya menjadi motivasi utamanya utuk terus giat belajar dan bekerja. Ia tidak ingin putus sekolah seperti ketiga kakaknya. Ia juga berharap adik bungsunya dapat terus melanjutkan pendidikan. Semangat inilah yang membuat Angga tetap ceria menjalankan pekerjaan sehari – harinya sebagai joki kuda wisata.

Nasib Angga hanyalah sebuah potret kehidupan dari anak – anak “perkasa” lain yang mencari nafkah demi membantu kebutuhan ekonomi keluarganya. Cara berpikir yang jauh lebih dewasa dibandingkan umur mereka dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Keinginan mereka untuk bermain tidaklah berbeda dari anak-anak yang lain, hanya saja nasib belum mengijinkan. Semoga kisah hidup si anak kuda dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengejar cita-cita.(fic)

About Author

Advertisement

Posting Komentar

 
Top